Tema: Anak Muda, Sosial-Budaya

oleh: Miftahul Arzak, S.Ikom., MA

Direktur MY Institute

Dimuat di Jurnal Tambora, Vol 1, No. 2 Tahun 2016 Hal. 1-30

 

 

Abstract

Social communities that coordinated by the youth is growing rapidly and recognized by audiences when social media began widely consumed by the public. Information, promotions and activities that they do are shown on the social media as a spectacle arena. This study aims to look at the behaviors of youth in using social media when informing about the social communities that they follow. According to Sigmunt Freud, the young people is a phase where a person is still considered as a child, but has been given the responsibility of being an adult. The Phase ultimately makes them want to prove by showing himself in the community, one of them with social activities. Finally, social communities are not only proving himself to be the location, but a lifestyle and a way of showing kindness before the public.

Keyword: Young People, Life Style, Social Community, Social Media, Spectacle

 

Euphoria Kegiatan Sosial di Tengah Anak Muda

Titik balik euphoria komunitas sosial yang dikendarai oleh anak muda di Indonesia mulai menjadi buah bibir sebagian masyarakat saat salah seorang tokoh pendidikan, Anies Baswedan pada pertengahan tahun 2009 menginisiasi lahirnya Indonesia Mengajar (IM). Gerakan IM diinspirasi oleh proses panjang yang dirajut dari mimpi-mimpi Anies saat melihat jejak Dosen serta Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1986-1990, Prof D. Koesnadi Hardjasoemantri (Pak Koes). Pada tahun 1950-an, Pak Koes membangun kegiatan sosial mahasiswa yang bernama “Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM)”. Kegiatan tersebut merupakan sebuah program yang mengisi kekurangan guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) di daerah, khususnya di luar Jawa (diunduh di https://indonesiamengajar.org/tentang-indonesia-mengajar/sejarah/ diunduh pada 28 Maret 2016. 08:48 wita).

Seperti penjelasan di atas, IM bukanlah kegiatan sosial anak muda pertama di Indonesia yang menginisiasi semangat anak-anak muda untuk berkomunitas dan membangun kelompok di tengah masyarakat. Namun, lahirnya IM dapat menjadi salah satu pemicu semangat anak muda di era media sosial (medsos), alasannya IM lahir dari tangan-tangan anak muda dengan promosi melalui website, selain itu IM juga memperkenalkan kegiatan-kegiatannyanya melalui medsos yang trend di kalangan anak muda, seperti facebook, twitter dan medsos lainnya.

Mengikuti perkembangan komunitas sosial di tingkat nasional, di Sumbawa pun banyak bermunculan berbagai komunitas-komunitas sosial yang dibangun oleh anak muda dengan cara memperkenalkan kegiatan-kegiatannya melalui medsos. Seperti Forum Anak Samawa (FAS) yang sejak tahun 2000-an awal berdiri, hinga kini FAS tetap eksis, salah satunya didorong oleh keaktifan anggota-anggotanya saat mempromosikan serta mem-posting kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan di facebook maupun Instagram. Selain FAS, ada juga Kelas Inspirasi Sumbawa (KI Sumbawa) yang merupakan kegiatan turunan dari IM di seluruh Indonesia, kegiatan ini pun berkembang di seluruh Indonesia dikarenakan informasi dan promosi yang menyebar melalui medsos yang dikonsumsi oleh anak muda-anak muda di setiap daerah. Selain FAS dan KI Sumbawa, komunitas yang menyediakan buku bacaan bagi anak-anak di Sumbawa juga hadir, seperti Taman Bacaan NTB yang kini merubah nama menjadi Studio Baca. Tidak hanya komunitas sosial yang berhubungan dengan anak saja, komunitas sosial anak muda yang menangani permasalahan lingkungan dan pariwisata pun hadir di Sumbawa. Walaupun bukanlah yang pertama seperi IM, namun komunitas-komunitas sosial yang kini bermunculan di Sumbawa menjadi salah satu trend di kalangan anak muda dengan memanfaatkan medsos.

Berbagai definisi yang melekat pada diri anak muda, jika melihat konteks di Indonesia, tidak ada pembahasan jelas tentang umur anak muda itu sendiri. Namun, berdasarkan UU No. 23 tahun 2002, Negara mengatur yang disebut sebagai seorang anak, yaitu umur 0-18 tahun atau belum menikah, sehingga anak muda dapat dikatakan sebagai seseorang dengan umur di atas 18 tahun hingga kultur di masyarakat sekitar mendefinisikan mereka menjadi seseorang dewasa atau orang tua, seperti telah menikah atau melalui ritual-ritual lainnya berdasarkan konteks lokasi tempat tinggal. Namun, secara kultural anak muda dapat dikatakan sebagai fase peralihan. Salah satunya yang diungkapkan oleh Sigmunt Freud dalam tulisannya The Transformations of Puberty. Freud menjelaskan bahwa anak muda merupakan seseorang yang berada dalam transformasi tanggung jawab di tengah masyarakat. Transformasi dari anak-anak, serta menjadi jembatan menuju ke orang dewasa atau orang tua (Freud, 1997: 17). Akhirnya anak muda dianggap sebagai seseorang yang belum memiliki tanggung jawab (wajah anak-anak), di balik itu anak muda disiapkan untuk memegang tanggung jawab (wajah orang dewasa). Dari penjelasan tersebut, anak muda akhirnya hadir dengan menunjukkan “dirinya” dengan mencari pembuktian di mata masyarakat. Dari penjelasan Freud itulah penulis ingin melihat bagaimana fenomena komunitas sosial yang dikendarai oleh anak muda hadir di sekitar masyarakat Sumbawa dengan tujuan memenuhi kepuasan-kepuasannya untuk mendapatkan kebahagiaan dari pembuktian yang mereka lakukan. Selain itu, penulis juga melihat bagamana kehadiran komunitas sosial dengan wajah-wajah anak muda ini tidak terlepas dari pemanfaatan medsos untuk memperkenalkan kegiatan-kegiatannya.

 

Komunitas Sosial di Sumbawa

Gerakan, Komunitas atau organisasi-organisasi di Indonesia telah hadir jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan. Sumbawa yang menjadi salah satu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia juga pernah melahirkan berbagai kelompok atau komunitas anak muda. Tidak hanya berhubungan dengan sosial saja, melainkan politik, budaya, seni dan kelompok-kelompok anak muda lainnya.

Pada masa perebutan kemerdekaan di tangan penjajah, Sumbawa juga menjadi salah satu wilayah perjuangan yang melahirkan gerakan-gerakan pemuda. Kelompok atau gerakan ini dapat saja disebut dengan gerakan sosial untuk merebut kemerdekaan. Contohnya pada tanggal 11 September 1948, pemuda-pemudi di Sumbawa membangun sebuah organisasi kesenian, budaya dan pendidikan yang dinamai “BUDAYA”, kegiatan-kegiatannya antara lain menyediakan pendidikan Sandiwara, Mengarang, Tari-tarian serta membuat Taman Bacaan (Legium Veteran Republik Indonesia, 1981: 37). “BUDAYA” ini menjadi salah satu kumpulan anak muda-anak muda di Sumbawa yang mengisi kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan kesenian bagi masyarakat sekitar. Selain BUDAYA, hadir juga kelompok-kelompok anak muda yang berjuang di jalan sosial dan politik. Hadirnya BUDAYA dan kelompok-kelompok anak muda di bidang sosial serta politik didorong oleh kebutuhan zaman dan keadaan Sumbawa saat itu. Dimana pasca proklamasi, perebutan kemerdekaan masih terjadi di berbagai daerah di Indonesia, selain itu ketebukaan pengetahuan tentang budaya dan seni bagi masyarakat dibutuhkan sebagai bentuk pembentukan dan pembuktian jati diri bangsa dan daerah.

Seperti berdirinya “BUDAYA”, gerakan atau komunitas anak muda hadir sesuai zamannya, keadaan dan peristiwa yang terjadi di sekitar. Pasca kemerdekaan Indonesia yang diikuti oleh masuknya Sumbawa ke Republik Indonesia menuai banyak persoalan, terlebih persoalan sosial dan kemasyarakatan. Berbagai permasalahan sosial bermunculan di sekitar masyarakat, sehingga dibutuhkan berbagai komunitas sosial yang dapat menjawab berbagai permasalahan tersebut. Saat ini yang kerap hadir dan sering terdengar gaungnya seperti berbagai komunitas yang bergerak dibidang permasalahan anak, perempuan, kesehatan, pendidikan.

Dalam tulisan ini, penulis akan spesifik melihat berbagai komunitas yang bergerak dibidang perlindungan anak, contoh kecilnya disebabkan oleh permasalahan sosial di masyarakat. Saat ini Tercatat 56.672 jiwa warga NTB yang mengadu nasib di Negara tetangga untuk menjadi pekerja, jumlah tersebut merupakan salah satu angka terbesar di Indonesia (Diunduh di antaranews.com/berita474792/56672-warga-ntb-memilih-jadi-tki diunduh pada 20 Maret 2016 16:44). Walaupun Sumbawa bukanlah menjadi salah satu kabupaten terbanyak menyumbang jumlah pekerja, namun permasalahan-permasalahan sosial, khususnya berhubungan dengan anak (anak pekerja) yang diakibatkan oleh orang tua yang menjadi pekerja kian bertambah. Salah satunya diakibatkan anak-anak kurang perhatian orang tua yang menyebabkan anak-anak pun menjadi pekerja (pekerja anak) dan permasalahan lainnya yang timbul akibat kurang kasih sayang orang tua yang akhirnya berhubungan dengan pendidikan, kesehatan serta kesejahteraan mereka kurang terpenuhi.

Dari berbagai permasalahan tersebut, akhirnya memunculkan komunitas-komunitas anak muda, seperti Forum Anak Sumbawa (FAS) yang banyak berbicara tentang hak-hak anak sejak tahun 2000-an. Di dalam konsentrasinya, FAS juga membahas tentang permasalahan anak pekerja dan pekerja anak yang semakin banyak berkembang di NTB saat ini. Permasalahan-permasalahan tentang anak kemudian menjadi virus yang juga merembet ke bidang pendidikan, antara lain banyak anak-anak yang akhirnya tidak dapat mengenyam pendidikan. Permasalahan tersebut akhirnya menginisiasi berbagai anak muda untuk menjadi guru di luar kelas, menyediakan buku bacaan serta berbagi inspirasi bagi anak-anak. Kegiatan tersebut saat ini hadir di Sumbawa seperti Studio Baca dan Kelas Inspirasi.

Berbagai komunitas tersebut akhirnya mulai hadir di sekitar masyarakat, tidak hanya kegiatan-kegiatan di lapangan saja, kegiatan-kegiatannya pun beralih ke medsos. Dari awal kegiatan seperti promosi akan melaksanakan kegiatan hingga foto-foto bertaburan di medsos dengan jargon-jargon dengan bahasa yang menggugah ditampilkan oleh mereka (anak muda). Perilaku-perilaku anak muda ini disebut sebagai tontonan oleh Guy Debord. Dalam buku Comment on The Society of The Spectacle, Debord menjelaskan bahwa dorongan terhadap masyarkat tontonan muncul pada masa modern. Masyarakat saat ini dipertontonkan terhadap tampilan-tampilan dalam sebuah media, masyarakat sudah tidak lagi menjadi yang asli melainkan tiruan-tiruan dari tontonan untuk diperhatikan oleh masyarakat (Debord, 1998: 5). Begitu pula yang diadopsi oleh anggota-anggota tiap komunitas anak muda yang diamati penulis. Bagaiamana kegiatan yang mereka lakukan menjadi ajang tontonan dengan memunculkan jati diri di medsos dengan menggunakan tampilan-tampilan foto profil, foto kegiatan dan berbagai jargon-jargon pra dan pasca kegiatan yang di lakukan oleh anak muda di Sumbawa.

Anak Muda dan Media Sosial

Medsos berjalan beriringan serta mengikuti masuknya internet di tengah masyarakat dunia. Tahun 2002 kelahiran Friendster (FS) menjadi salah salah satu euphoria anak muda bermedsos, dimana sebelumnya anak muda sering berkomunikasi melalui forum online. Pada awal kelahirannya, FS merupakan salah satu medsos yang bersifat umum dengan 90 juta keanggotaan dan 60 juta pengunjung tiap bulannya, walaupun tidak jauh dari tahun tersebut, tahun 2004 hadir Facebook, serta diikuti oleh twitter pada tahun 2006 (Kementerian Perdagangan, 2014: 13-15). Euphoria penggunaan medsos juga dirasakan di kota-kota di Indonesia, terlihat sejak tahun pertama hadir, Indonesia menjadi salah satu Negara pengguna medsos terbanyak di dunia. 63 Juta orang menggunakan internet, sedangkan dari angka tersebut 95 persennya menggunakan medsos (diunduh di https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengguna+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker diunduh pada 30 April 2016 06:54). Bukan tanpa alasan medsos menjadi trend di sekitar masyarakat. Kehadirannya mempermudah seseorang untuk menampilkan diri (narsis) di tengah masyarakat, memperkenalkan aktivitas, serta kegiatan-kegiatan yang menuju ke tontonan seperti yang diungkapkan Debord.

Maria Leena Korpijaakko pun mengungkapkan bahwa medsos hadir sebagai penghubung masyarakat ke masyarakat lainnya, dengan tujuan untuk Identity Performance, dimana aktivitas ini lebih dekat dengan kelompok anak muda (Korpijaakko, 2015:1). Penjelasan Korpijaako sama seperti yang diungkapkan oleh Freud di pembahasan awal, dimana fase anak muda membuat mereka ingin melakukan pembuktian dengan menunjukkan dirinya di tengah masyarakat. Maka, medsos menjadi salah media pilihan anak muda sebagai alat untuk memperkenalkan segala aktivitas yang mereka lakukan kepada masyarakat.

Terlebih menurut Jesse Drew bahwa anak muda lebih terampil atau familiar dibandingkan usia-usia di atas maupun di bawahnya dalam memanfaatkan teknologi, alasannya karena kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan lebih dekat dengan teknologi-teknologi yang sedang berkembang, seperti membuka web, mencari dan men-share musik, mencari literatur serta menemukan generasi-generasi sejenis dalam memanfaatkan medsos. Walaupun tidak dipungkiri sebagian kecil generasi di bawah maupun di atasnya juga ada yang mengkonsumsi medsos (Drew, 2013:8). Penggunaan-penggunanan media inilah yang mendorong anak muda akhirnya terampil dan lebih familiar saat menggunakan medsos. Terlebih dalam tulisan ini, penulis akan melihat bagaimana medsos dijadikan sebagai alat untuk anak muda menemukan kabahagiaan dengan menunjukkan dirinya atau dengan kata lain mempertontonkan berbagai aktivitasnya di medsos untuk mendapatkan kebahagiaan.

 

Mempertontonkan Kebaikan: Jalan Menuju Surga

Sebelum memulai wawancara dan pengamatan, penulis membangun argumen tentang anak muda dan kegiatan sosialnya dengan melihat ungkapan Thagard dan Nisbett. Thagard dan Nisbett dalam tulisannya Rationality and Charity melihat rasionalitas dalam fenomena kegiatan sosial yang digerakkan oleh masyarakat. Kegiatan-kegiatan amal atau sosial merupakan bentuk dari penilaian psikologis dan ekonomi. Pada penilaian psikologis, kegiatan sosial dianggap sebagai bentuk perbaikan diri, sedangkan pada penilaian ekonomi, kegiaan sosial merupakan sebuah balasan atas apa yang akan mereka lakukan nanti atau dengan kata lain timbal balik keuntungan (Thagard dan Nisbett, 1983). Thagard dan Nisbett berpendapat bahwa kegiatan sosial dilakukan untuk mendapatkan kepuasan batin saat melakukan sesuatu yang dianggap baik, serta dengan kegiatan yang mereka lakukan tersebut akan mendapat balasan secara langsung dari manusia itu sendiri (dunia) seperti pujian, balasan bantuan serta ucapan terima kasih, maupun balasa dari tuhan (akhirat). Namun dalam tulisan ini penulis melihat bahwa kedua balasan tersebut dapat didefinisikan sebagai surga, dimana balasan serta penilaian seseorang di dunia sebagai balasan dari surga dunia, serta harapan mendapatkan amal oleh tuhan sebagai keinginan mendapatkan surga di akhirat. Sehingga itulah yang mendorong anak muda menjadikan kegiatan-kegiatan amal di dalam komunitasnya sebagai salah satu gaya hidup untuk mendapatkan surga.

Melihat bagaimana kegiatan sosial dipandang sebagai kegiatan yang bersifat dunia dan akhirat, pada awalnya kegiatan sosial bermunculan dari institusi-institusi keagamaan diseluruh dunia. Tercatat pada gerakan organisasi sosial di Inggris dan Amerika, bahwa kegiatan amal dilakukan oleh Negara untuk mensejahterakan rakyat dan pekerja sosial, namun dibalik itu Negara masih menggunakan nama institusi keagamaan dikarenakan kegiatan amal dianggap merupakan aktivitas agama antara manusia dan tuhan (Leiby, 1984). Begitu pula data-data yang didapatkan oleh penulis setelah melakukan wawancara kepada berbagai informan. Kegiatan-kegiatan amal yang mereka lakukan saat ini merupakan bentuk pembayaran kebaikan tuhan kepada mereka, karena mereka tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang mereka bantu karena membutuhkan pertolongan.

Dalam tulisan ini, penulis melakukan pengamatan dan wawancara kepada tiga narasumber yaitu SB (22), IK (18) dan WL (23). Kegiatan-kegiatan sosial yang mereka lakukan merupakan kegiatan “wajib” yang harus mereka laksananakan minimal sehari dalam seminggu. Akhirnya mereka memilih untuk “hidup” di tengah komunitas sosial, salah satunya agar mereka dapat menambah pengalaman serta lebih “up to date” atau tidak ketinggalan zaman seperti anak muda lainnya.

Kegiatan sosial yang telah mereka lakukan selama beberapa tahun lalu, sejak tiga, lima bahkan sejak tujuh tahun lalu merupkan kegiatan sampingan di tengah aktivitas utama yang mereka lakukan, seperti sebagai pelajar, mahasiswa dan pekerja kantoran. Salah satu narasumber, WL menceritakan bahwa kegiatan ini sudah sejak tiga tahun lalu dia geluti dengan berbagai komunitas sosial lainnya. Kini, WL telah memiliki tiga komunitas sosial. Sebelum bekerja, WL mulai aktif kegiatan sosial di akhir-akhir perkuliahannya saat mengunjungi beberapa daerah di Lombok untuk mengajar dan membuat sekolah bagi anak-anak di suatu wilayah yang kurang mampu. Dorongan WL untuk hadir di tengah masyarakat bukan semata-mata untuk mengejar surga akhirat, melainkan kepuasan diri. Salah satu kepuasan yang dia dapatkan ketika dapat berbagi informasi dan berita di medsos kepada rekan-rekannya sehingga daerah yang akan dia bantu menjadi dikenal dan turut menggerakkan anak muda lainnya di sekitar untuk menjadi relawan seperti dirinya. Namun, tidak jarang dia dikenal sebagai WL yang berjiwa sosial di kalangan rekan-rekan anak muda, penilaian tersebut sebagai suatu kepuasan “surga dunia” yang dia dapatkan.

Selain WL, ada juga IK yang sejak SMP (kini telah berkuliah) telah mengikuti kegiatan sosial di FAS. Bukan hanya kebahagiaan saat rekan-rekannya mengenal dia sebagai IK yang berjiwa sosial saja, melainkan karena sering mengupdate foto dan jargon-jargon sosial, IK sering dipuji oleh rekan-rekannya, kepuasan-kepuasan seperti itulah yang salah satunya didapatkan, sehingga dapat dikenal oleh sekitar. Walaupun di balik itu, IK juga berharap mendapatkan amal atas apa yang dia lakukan, dimana dia bercerita kepada penulis bahwa dia sering melakukan kesalahan di dunia, sehingga harapan bahwa ada kesimbangan saat dia terjun ke dunia sosial. Contonhya saat mengungkapkan dia masih jarang solat, atau secara general dia masih jarang beribadah sesuai tuntunan agamanya. Maka, kegiatan sosial sianggap sebagai solusi, sehingga ada harapan tuhan akan mengampuni dosa-dosanya ketika membantu sekitar.

Melihat perilaku IK, penulis merujuk pada argumen Sarah Moore. Moore menjelaskan bahwa perilaku masyarakat yang melakukan kegiatan amal merupakan ketakutan mereka terhadap sang Pencipta, dimana kegiatan-kegiatan tersebut merupakan tabungan masa depan atau disebut sebagai asuransi pemakaman (Moore, 2008: 137-148) sama seperti yang dijelaskan oleh IK, bahwa kegiatan-kegiatan amal yang dia lakukan sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada sang pencipta karena segala yang telah diberikan kepadanya, selain itu dia dapat “mendiskon” dosa-dosanya sehingga ketika melakukan kebaikan dengan kegiatan sosial, harapa untuk diampuni oleh Tuhan pun datang. Atau dengan kata lain, IK melakukan penenangan diri melalui kegiatan sosial yang dia lakukan.

Saat ini IK yang aktif di kegiatan-kegiatan sosial di Sumbawa merasa bahagia dapat merasakan surga yang ada di dunia bahkan telah mendapatkan kehidupan yang layak serta menyiapkan tabungan-tabungan untuk masa depan di akhirat. Seperti unkapan Moore di atas, IK dan narasumber lainnya seperti SB juga merasa jika dengan membantu orang-orang saat ini, maka mereka akan diberikan balasan dan bantuan oleh sang pencipta kedepannya. Bahkan kegiatan tersebut dapat menyeimbangkan segala kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan di dunia.

Seperti yang disampaikan IK, SB juga aktif di kegiatan yang sama dengan IK di FAS. SB beranggapan bahwa fenomena kegiatan amal tidak terlepas dari kegiatan-kegiatan yang dilakuakan anak muda untuk mencari kebahagiaan. SB saat ini bekerja sebagai freelancer di berbagai perkantoran di Lombok maupun di Sumbawa. SB merasa kegiatan sosial sebagai bentuk persiapan untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik dengan pembuktian dari orang-orang yang menyaksikan facebook yang dia miliki. Seperti dalam tulisannya Motivations for Charity in Early Modern, menjelaskan setiap kehidupan manusia akan selalu ada orang yang butuh pertolongan, maka dengan memberikan pertolongan, kita juga akan menolong diri kita dari persiapan-persiapan pada masa akan datang (Dinan dalam Safley, 2002:175).

SB beranggapan bahwa kegiatan-kegiatan amal selama ini dia lakukan untuk masa depannya yang lebih baik, harapan-harapan tersebut dijadikan sebuah tabungan masa depan sehingga orang-orang yang butuh pertolongan yang mereka lakukan saat ini tidak akan terjadi pada mereka dan saudara, selain itu juga bantuan yang dilakukan diharapkan akan ada orang yang datang membantu jika mereka membutuhkan pertolongan nantinya. Bantuan (balasan) tidak harus datang dari seseorang yang mereka tolong saat ini, namun bisa datang dari siapapun, terlebih dengan medsos, orang-orang mengetahui dirinya sebagai SB yang berjiwa sosial dan hadir di berbagai komunitas sosial di masyarakat. Dari tulisan di atas, penulis melihat bahwa kegiatan-kegiatan sosial disekitar anak muda saat ini dijadikan ajang untuk mendapatkan keuntungan untuk diri mereka sendiri. Dengan melakukan kebaikan kepada sekitar, maka mereka telah mempersiapkan masa depan lebih baik, kedepannya jika mereka mendapatkan masalah maka mereka berharap dapat bantuan dari orang-orang, sebagaimana mereka melakukan kebaikan kepada orang lain.

Di dalam pembahasan ini, medsos menjadi “jalan” utama untuk mereka mendapatkan kedua surga tersebut. Dengan medsos orang-orang akan mengenal diri mereka sebagai si-berjiwa sosial, selain itu harapan-harapan doa dari orang yang mereka bantu akan menjadikan mereka lebih dekat dengan surga akhirat. Melihat perilaku WL, IK dan SB dalam berkomunitas sosial di medsos juga sebagai bentuk gaya hidup untuk mendapatkan surga. Dengan medsos akan membantu mereka dalam memperkenalkan diri kepada masyarakat luas. Medsos berperan penting dalam memberikan informasi dan menampilkan berbagai macam kegiatan yang mereka lakukan. Tampilan-tampilan yang diberikan sebagai bentuk seperti yang dijelaskan oleh Sarah Moore dalam tulisannya tentang Simbolic Uses of The Ribbon, dimana menggunakan Ribbon atau tanda pita untuk melakukan kegiatan-kegiatan amal sebagai bentuk jati diri mereka untuk turut mendungkung (Moore, 2008. 58). Seperti ungkapan yang dilontarkan oleh WL, IK dan SB bahwa mereka sering menggantikan akun Facebook atau foto profil medsos sebagai bentuk dukungan atau bantuan untuk sekitar. Salah satu contohnya saat terjadi gempa bumi, banjir, anak-anak yang terkena sakit dan perlu bantuan kesehatan serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Dengan aktivitas yang mereka lakukan, mereka telah melakukan tontonan kepada masyarakat, dengan harapan mendapatkan surga di dunia dan akhirat.

 

Kesimpulan

Komunitas sosial yang digerakkan oleh anak muda kian marak berkembang di Sumbawa, terlebih anak muda-anak muda saat ini memanfaatkan medsos untuk mempromosikan kegiatannya. Perilaku-perilaku dalam bermedsos memperlihatkan bahwa anak muda ingin menunjukkan dirinya sebagai pemilik tanggung jawab dan bukan anak-anak lagi. Di balik kegiatan sosial tersebut, anak muda menjadikan kegiatan sosial sebagai ajang gaya hidup dan tontonan kepada masyarkat sekitar, atau dengan kata lain mereka menunjukkan kebaikannya melalui medsos dengan tujuan mendapatkan surga. Surga di dunia dengan pembuktian oleh masyarakat sekitar, sedangkan surga di akhirat sebagai bentuk tabungan amal untuk kebaikan yang mereka lakukan sehingga mendapatkan ampunan atas dosa yang pernah mereka lakukan.

 

Daftar Pustaka

Debord, Guy. 1998. Comment on The Society of The Spectacle. Verso: London.

Drew, Jesse. (2013). A Social History of Contemporary Democratic Media. Routledge: London.

Freud, Sigmunt. (1997). The Transformations of Puberty. Dalam Adolescence and Psychoanalysis: The Story and The History. Editor Maja Perret-Catipovic dan François Ladame. Karnaca Books: London.

Kementerian Perdagangan RI. (2014). Panduan Optimalisasi Media Sosial untuk Kementerian Perdagangan RI. Kementerian Perdagangan: Jakarta.

Korpijaakko, Maria Leena. (2015). Cracking Facebook : The Importance of Understanding Technology-Based Communication

 Legium Veteran Republik Indonesia. (1981). Naskah Pola Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia Daerah Sumbawa Sejak 17 Agustus 1945 – 27 Desember 1949. Badan Pembina Pelestarian Jiwa-Semangat Nilai-nilai 45: Sumbawa.

Leiby, James. 1984. Charity Organization Reconsidered. Dalam Jurnal Chicago: Social Service Review, Vol. 58, No. 4 Hal. 523-538.

Moore, Sarah EH. 2008. Ribbon Culture: Charity, Compassion, and Public Awareness. Palgrave Macmillan. New York.

Safley, Thomas Max. 2002. The Reformation of Charity: 
The Secular and the Religious in Early Modern Poor Relief. Brill Academic Pulisher: Boston.

Thagard, Paul dan Nisbett, Richard E. 1983. Rationality and Charity. Dalam jurnal Chicago: Philosophy of Science, Vol. 50, No, Hal. 250-267.

 

Internet

antaranews.com/

https://indonesiamengajar.org/

https://kominfo.go.id/

Jalan Menuju Surga (Anak Muda, Media Sosial dan Komunitas Sosial di Sumbawa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *