Tema: Kajian Agama, Sosial-Budaya

 

Oleh:

Syaiful Anam, SIP., M.Sc., MIS

Dosen di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Mataram

Dewan Penasehat MY Institute

 

Bagi sebagian besar para pengkaji Studi Islam Nusantara ataupun Islam di Asia Tenggara tentunya sudah tidak asing lagi dengan sebuah buku yang berjudul “Jaringan Ulama Timur-Tengah dan Kepulauan Nusantara abad 17-18: Akar Pembaharuan Islam Indonesia”. Buku yang berjudul asli “The Transmission of Islamic Reformism to Indoesia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”, adalah merupakan disertasi Prof. Azyumardi Azra (Mantan Rektor UIN Jakarta) yang diajukan kepada Departemen Sejarah, Columbia University, New York, pada akhir tahun 1992. Dulu saat saya masih menempuh studi sarjana (S1) buku ini pernah menjadi salah satu referensi untuk mengerjakan tugas paper mata kuliah Politik Islam di Asia Tenggara dan tentunya saya tidak membaca semuanya, hanya membaca beberapa bagian saja yang cocok dengan isi paper yang saya tulis. Namun saat itu buku ini bagi saya ibarat ‘angin lalu’, setelah paper selesai maka tak pernah ada niatan untuk mengkhatamkan buku ini sehingga saya bisa mendapatkan gambaran utuh dan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Interaksi singkat dengan buku Prof. Azyumardi Azra sekitar sembilan tahun lalu itu ternyata menemukan momentumnya saat ini. Sekitar bulan Maret 2017 lalu tanpa sengaja saya membaca sebuah ulasan satu halaman penuh di Koran Lombok Pos terkait sejarah dan kiprah ulama di NTB. Tentunya fokus utama dari ulasan ini adalah mengenai kiprah TGH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, pendiri organisasi islam terbesar di NTB “Nahdhotul Wathan” dan juga kakek dari Gubernur NTB saat ini. Yang menarik perhatian saya adalah dalam beberapa paragraf terakhir ulasan tertulis bahwa jika ditarik silsilah guru dari TGH Muhammad Zainuddin Abdul Majid ini adalah Syeikh Muhammad Zainuddin bin Muhammad Badawi as-Sumbawi. Kata ‘Sumbawi’ mengindikasi bahwa ulama tersebut berasal dari Sumbawa, Pulau terbesar di NTB setelah pulau Lombok. Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Sumbawa, sebelum berhijrah ke Jogja untuk melanjutkan studi, tentunya saya merasa bangga sekaligus penasaran. Bangga karena ternyata di Sumbawa pernah lahir ulama besar yang merupakan Guru dari seorang ulama yang sangat disegani dan dihormati di Lombok hingga saat ini dan bahkan telah menjadi Pahlawan Nasional. Dan sekaligus penasaran karena di buku yang ditulis dan merupakan hasil penelitian komprehensif dari Prof. Azyumardi Azra tidak sedikitipun mengulas mengenai Syeikh Muhammad Zainuddin bin Muhammad Badawi as-Sumbawi.

Dalam beberapa upaya pencarian awal yang saya lakukan di beberapa artikel yang tersebar di google memang tidak banyak informasi mengenai ulama asal Sumbawa. Selain itu ternyata bukan hanya seorang Syeikh Muhammad Zainuddin bin Muhammad Badawi as-Sumbawi yang menjadi ulama besar asal Sumbawa, ada juga Syeikh Idris bin Utsman as-Sumbawi dan Syeikh Muhammad Ali bin Abdur Rasyid bin Abdullah Qadhi as-Sumbawi, selain juga yang berasal dari Bima yaitu Syeikh Abdul Ghani bin Subuh Bin Ismail al-Bimawi.

Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani (Patani, Thailand Selatan sekarang), yang merupakan salah satu ulama besar dalam jaringan ulama nusantara abad ke-18 sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Prof. Azra, adalah saudara seperguruan dengan Syeikh Muhammad Zainuddin bin Muhammad Badawi as-Sumbawi. Beliau, as-Sumbawi, juga merupakan guru dari ulama besar Nusantara yaitu Muhammad Basuni al-Imran al-Sambasi, seorang ulama yang hidup sezaman dengan KH.Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari. Karya-karya yang terkenal Syeikh as-Sumbawi ini antara lain Al-Yawaqitu wal Jawahir yang ditulis pada 1243 H/1827 M, Sirajul Huda (mengenai ‘aqidah), Tuhfatul Qudsiyah, dan Minhajus Salam (mengenai fiqh). Kitab-kitab ini masih dipergunakan dalam studi-studi islam di Malaysia. Selain itu kitab Al-Yawaqitu wal Jawahir juga dapat ditemukan Mushtafa Bab El-Halabi, Kairo; sebuah percetakan di kawasan Madinah El-Buuts yang konon termasuk paling tua di Kairo, bersanding dengan deretan kitab-kitab ulama-ulama besar nusantara lainnya seperti al-Raniri, al-Bantani, al-Banjari, dan lain-lain.

Dari uraian diatas menjadi sangat menarik untuk mengetahui lebih lanjut mengapa Prof. Azra dalam bukunya tersebut tidak memasukkan nama Syeikh Muhammad Zainuddin bin Muhammad Badawi as-Sumbawi dalam daftar jaringan ulama nusantara abad ke-18, dengan mempertimbangkan pengaruh intelektual Syeikh as-Sumbawi baik di Asia Tenggara maupun di Timur-Tengah. Jika dikaitkan dengan isu kontemporer saat ini, khususnya mengenai sejarah dan perkembangan islam di Lombok dan Sumbawa, perkembangan islam di Lombok jauh lebih pesat dibanding Sumbawa. Meskipun mayoritas penduduk di Sumbawa adalah Muslim, sama dengan di Lombok, tetapi Islam di Lombok lebih maju yang ditandai dengan banyak pondok pesantren, institusi pendidikan berbasis islam, masjid-masjid yang bertebaran di seluruh pelosok Lombok, serta sentralitas tokoh Tuan Guru sebagai penggerak perubahan sosial di Lombok. Jika mengacu pada perkataan Prof. Azra dalam bukunya tersebut bahwa para ulama nusantara setelah mencapai tingkat keilmuan tertentu dalam pengetahuan islam maka pada gilirannya mendorong intensifikasi lebih lanjut atas upaya islamisasi terutama di kalangan kelompok etnis mereka, sehingga daripada itu jika Sumbawa pernah memiliki ulama-ulama besar seperti yang disebutkan sebelumnya, lalu mengapa geliat dan perkembangan islam di Sumbawa tidak semaju di Lombok? Tentunya masih banyak hal-hal yang menarik terkait topik ini. Semua ini ibarat puzzle yang masih tercecer dan perlu disatukan sehingga membentuk sebuah gambaran yang akan memberikan kontribusi bagi khazanah sejarah islam di Nusantara. Tentunya penelitian lebih lanjut dan mendalam mungkin diperlukan untuk mengeksplorasi lebih jauh sejarah dan perkembangan islam di Sumbawa serta kaitannya dengan penyebaran islam di nusantara. Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan:

 

Ulama Nusantara dan Islam di Sumbawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *