Bagaimana karekteristik pariwisata di Sumbawa yang “bagus” untuk dikembangkan? Wisata alam kah atau budaya dan sejarah?

 

Sabtu, 20 Januari 2018 lalu, MY Institute bersama dengan mahasiswa Fikom UTS angkatan 2015 menggelar penyampaian rilis survei menuju dua tahun kepemimpinan Husni-Mo di OASE Sumbawa. Mifta selaku Direktur MY Institute menjelaskan ada beberapa fokus riset yang dapat menghasilkan sebuah rekomendasi dan peluang untuk dikembangkan di Sumbawa, salah satunya adalah Pariwisata.

Pariwisata menjadi salah satu yang gencar dikembangkan oleh pemerintah  Sumbawa saat ini, contohnya beberapa lokasi destinasi yang mulai dibuka dan kegiatan tahunan masyarakat yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata. Sebut saja dari Teluk Saleh, event Festival Pesona Moyo, dan event-event lainnya. Namun sebelum berbicara mengenai pariwisata yang nantinya akan merujuk pada promosi daerah, harus diketahui terlebih dahulu juga kondisi masyarakat saat ini.

Berdasarkan survei masyarakat Sumbawa yang dilakukan November 2017 lalu, banyak dari masyarakat yang menilai pariwata masih berhubungan dengan “alam” saja. Sehingga mereka menilai bahwa  belum banyak potensi pariwisata di sekitar lingkungannya yang sudah dikembangkan dengan baik. Dari seluruh responden menilai bahwa di sekitarnya baru 38,8% saja yang tersedia dan dikelola dengan baik. Selain itu pelibatan masyarakat dalam pengembangan potensi pariwisata juga masih rendah. Padahal jika saja masyarakat dilibatkan dalam setiap aspek kegiatan pemerintah, pemerintah sendiri dapat dengan mudah mengembangkan daerah wisata tersebut. Karena masyarakat akan merasa memiliki, bertanggung jawab, menjaganya bahkan turut memperkenalkan kepada kerabatnya melalui mulut ke mulut atau media daring (online).

Kita coba lihat perbandingan hasil survei “Kearifan lokal dan kesejarahan yang masih berkembang di Sumbawa” dengan pengembangan wisata alam berdasarkan penilaian masyarakat. Tercatat, menurut hasil data survei, bahwa masyarakat menyatakan dalam setiap event festival atau kegiatan yang diadakan setahun sekali sudah mengembangkan kearifan lokal. Terdapat 78,9% responden yang merasa kearifan lokal akan mudah dikembangkan, karena kehidupan sehari-hari masyarakat pun masih memegang erat kebudayaan. Inilah yang bisa menjadi salah satu peluang pemerintah untuk membangun karekteristik pariwisata yang akan dikembangkan. Selain itu, Jika berbicara tentang kebudayaan, maka sentuhannya langsung ke masyarakat. Maka peluang ini juga sangat berhubungan dengan survei yang dijelaskan di atas sebelumnya, bahwa  masyarakat perlu untuk dilibatkan di setiap aspek pariwisata, dan yang lebih dekat dengan masyarakat adalah yang berhubungan dengan kearifan lokal (Sejarah dan Budaya).

 

Kita coba membaca peluang ini dengan terlepas dari teori, melainkan praktiknya dan realitas yang ada.

Di barat Sumbawa kita berseberang dengan Pulau Lombok dan Bali, dimana masyarakat dunia pun tahu bahwa Bali dan Lombok merupakan destinasi alam yang sangat indah. Begitu pula dengan timur Sumbawa, yang seringkali wisatawan luar yang berwisata dari Lombok langsung menuju ke Raja Ampat. Bukan bermaksud untuk meniadakan wisata alam Sumbawa, melainkan peluang wisata akan lebih kecil untuk dikunjungi jika sama dengan wisata-wisata di sekitarnya. Namun, jika Wisata Sejarah dan Budaya dikembangkan di Sumbawa, maka wisata sejarah dan budaya tersebut dapat menjadi wisata alternatif ketika Wisatawan akan menuju ke Bali, Lombok dan Raja Ampat untuk menikmati alamnya.

Peluang pertama, Jika berbicara terkait sejarah dan budaya, Sumbawa sangat matang dan banyak yang konsen terhadap Sejarah dan Budaya. Hadirnya Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) dan orang-orang di dalamnya merupakan penjaga “pengetahuan” tentang sejarah dan budaya tersebut menjadi peluang yang sangat baik, sedangkan alam sendiri kita perlu menghadirkan orang-orang yang konsen bukan hanya pengalaman saja, melainkan keilmuan. Maka untuk mengembangkan wisata ini kita dapat melihat peluang  yang lebih besar dan  lebih kecil.

Peluang kedua,  Yogyakarta, Solo dan Surabaya, daerah-daerah yang dikenal dengan daerah kebudayaannya ini, kini menggeliat mengembangkan wisata alam dan wisata seni sehingga mengurangi citra wisata sejarah dan budayanya. Pergeseran ini dapat menjadi peluang bagi Sumbawa, karena memiliki sedikit pesaing dan dapat menjadi pusat wisata sejarah dan budaya.

Selain itu, di dalam Pidato Bupati Sumbawa pada HUT ke 59 mengatakan bahwa “Sumbawa tersusun atas desa-desa, dimana ada 157 Desa dan hanya 8 Kelurahan saja”, padahal kita ketahui bahwa di desa-desa penjagaan ingatan tentang kebudayaan masih kental, sama persis seperti hasil survei MY Institute bekerjasana dengan FIKOM UTS bahwa kearifan lokal masih tetap terjaga.

Terlebih di dalam penyampaian rilis survei 20 Januari lalu, Mifta juga menceritakan bahwa pengalaman menjadi salah satu dewan Juri di penulisan Lomba Sejarah Lokal yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Sumbawa, “bahwa dari 30 Peserta terdapat 10an lebih kisah-kisah yang berasal dari desa-desa yang dihadirkan dan tidak pernah terdengar”. Ini dapat menjadi peluang yang jika dikembangkan, Sumbawa akan menjadi daerah dengan berjuta sumber kisah, dan yang terakhir, pemerintah saat ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan kisah tulis (buk) pada masa lalu yang disimpan oleh masyarakat (keturunan) pemegang kisah, karena dianggap dikeramatkan dan tidak boleh diserahkan kesiapapun, termasuk pemerintah. Ini dapat menjadi peluang untuk mengikutsertakan mereka dalam tim wisata sejarah sebagai “pencerita” buk tersebut, tanpa harus diserahkan ke siapapun, dan tentunya sejalan dengan keinginan pemerintah untuk membuka pengetahuan pada masa lalu.

 

Praktiknya,

Kita membayangkan wisatawan yang baru saja menikmati alam Bali dan Lombok disambut dengan sebuah “The Island of Museum” (Pulau Museum). Dimana saat masuk ke Dermaga Poto Tano atau Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III mereka sudah disambut dengan tata ruang Sumbawa yang bercorak kebudayaan.

Saat ini baru beberapa Kantor saja yang mulai menampilkan karekteristik citra Sumbawa, sebut saja yang dengan mudah ditemui dan dilihat di kota Sumbawa, Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III, Kantor Komisi Pemilihan Umum Kab. Sumbawa (KPU), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP), dan (calon) kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah yang menampilkan bentuk seperti sarang lebah. Jika seluruh kantor dan ruas jalan (tata ruang) diindetikkan dengan citra khas Sumbawa (Lonto engal, kemang satange, lebah, kuda dan masih banyak lagi) ini akan menjadikan tata ruang yang cukup baik, selain itu penerimaan masyarakat pun akan jadi baik, jika merujuk pada hasil survei bahawa kearifan lokal masih menjadi nilai yang dijunjung oleh masyarakat.

Setelah itu, wisatawan akan berkeliling ke desa-desa yang menyediakan kisah-kisah masa lalu dengan disambut oleh masyarakat dan menjual pernak-pernik cindera mata, hingga setiap jajanan dan makanan yang mereka cicip selalu bermakna cerita masyarakat. Pada malam hari mereka beristirahat di rumah warga (bale panggung) berbaur dengan masyarakat, dan saatnya pulang, kesan-kesan kebudayaan tetap melekat pada ingatan mereka, untuk melanjutkan ke wisata alam di daerah lainnya.

 

Selamat datang di Sumbawa, The Island of Museum.

 

Peluang Sumbawa Mengembangkan Wisata Sejarah dan Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *