Kajian Fans/Tim Sukses dalam Pemilihan Umum di Media Sosial

(Tulisan merupakan beberapa intisari dari buku Komunikasi Politik 2.0 karya Miftahul Arzak)

Oleh: Miftahul Arzak, S.Ikom.,MA (Direktur MY Institute)

 

Kebebasan berekspresi, tidak terkontrolnya “akun” menjadi sebuah masalah baru dari sebuah demokrasi. Demokrasi yang diharapkan dapat membuka kran kebebasan berpendapat, berekspersi dan berfikir menjadi tidak terkontrol dikarenakan tidak berbanding lurus dengan intelektualitas manusianya. Salah satunya juga hadir bersamaan dengan euphoria penggunaan Internet, yang di dalamnya terdapat fitur media sosial.

Jika di awal masa reformasi Indonesia, Internet dianggap salah satu alat “demokrasi” yang dapat membebaskan suara rakyat Indonesia. Kini, internet menjadi penyuara yang sangat bebas dan kadang tidak terkendali. Kebebasan menyuarakan isi hatinya untuk mengkritik, memberikan saran atau melakukan perdebatan tentang sebuah isu politik di masyarakat kini bukanlah milik segelintir orang. Jika dahulu yang terasa otoritas sepenuhnya di tangan legislatif dan eksekutif. Kini netizen hadir sebagai politisi maya. Politisi pada dunia maya yang juga dapat mempengaruhi pilihan-pilihan eilite politik (politisi partai) dan pemilihnya.

Perdebatan pada media sosial tidaklah mudah untuk dihindari. Hadirnya akun-akun yang berada pada posisi yang berbeda pandangan dengan akun yang lainnya akan menjadi diskusi yang panjang dengan cara pandang yang mereka anggap paling “benar”, sehingga menhadirkan posisi “dominan” dan “subordinat”.

Saya akan memberikan contoh, bagaimana “Dominan” dan “subordinat” hadir dalam sebuah media sosial “kita atau akun yang kita miliki”. Pada tahun 2014 lalu, saat pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, menawarkan dua pasang calon, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta.

Pada tahun itu, saya masih berkuliah di Yogyakarta, dimana di sana mayoritas pengusung dan pendukung  Jokowi-JK. Koran-koran lokal mulai bertebaran  menyanjung Jokowi-JK, terlebih pemilik salah satu koran lokal besar di Yogyakarta adalah petinggi PDI-P. Berbeda dengan daerah saya, Provinsi Nusa Tenggara Barat yang pada pemilihan umum, suara Prabowo-Hatta mencapai lebih dari 80%. Realita ini cukup unik bagi saya, terlebih ada dua pertarungan besar saat itu, antara dunia maya dan dunia nyata.

Pada dunia maya, rekan-rekan saya di media sosial memilih Prabowo-Hatta, karena “friends” di facebook saya banyak yang berasal dari Provinsi NTB, sedangkan di dunia nyata, saya berada di daerah yang mayoritas memilih Jokowi-JK. Fenomena tersebut menjadi unik karena ada tarik menarik kubu antara dua dunia maya dan dunia nyata, terlebih kedua kubu menganggap paling “benar dan calonnya akan menang”.

Fenomena pemilihan Presiden tahun 2014 antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto juga menyeret pada aktivitas mengonsumsi media televisi. Masyarakat pecinta Joko Widodo akan lebih “senang” mengonsumsi berita di siaran Metro TV, sedangkan pecinta Prabowo lebih memilih tayangan berita di siaran TV One.

Cukup mudah untuk menilainya, pemilik Metro TV (baca: Surya Paloh) mendukung Joko Widodo pada pemilihan Presiden, sedangkan pemilik TV One (baca: Aburizal Bakrie) masuk dalam kubu Prabowo Subianto. Pada fenomena ini, masyarakat dapat memilih masuk ke wacana dominan yang dimiliki oleh Metro TV atau TV One, tergantung siapa presiden pilihannya.

Pada “Pemilihan Presiden 2014” ada dua wacana yang sama-sama ingin dipahami dan diposisikan dalam wacana dominan. Wacana tersebut hanya akan memberikan pilihan-pilihan terbatas dalam menilai. Selain itu, dalam memandang fenomena sosial di sekitar hanya akan melihat “benar” dan “salah”. Padahal “kebenaran” adalah konstruksi pihak dominan yang akhirnya akan mengesampingkan wacana yang lain hingga menjadi wacana yang terpinggirkan atau subordinat.

Pada perkembangan teknologi informasi dengan hadirnya internet, khususnya di Indonesia wacana dominan dan subordinat lebih mudah di dapat. Jika netizen berada pada lingkaran pertemanan pendukung calon A, dan netizen tersebut juga mendukung calon A, maka kita berada dalam ruang lingkup kehidupan yang “Nyaman”. Sebaliknya jika kita memlih calon B namun di media sosial teman-teman kita banyak mendukung calon A, maka kita akan berada dalam perdebatan yang panjang dan berada pada zona “tidak nyaman”. Perdebatan tersebut tidak akan usai hingga unfollow terjadi di media sosial dan berpengaruh pada kehidupan nyata.

Calonku Sudah Pasti Menang: Antara Dunia Maya atau Dunia Nyata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *