Sumber: Lombokpost.net

MENUJU 100 hari kerja semenjak dilantik dan diambil sumpah, keyakinan masyarakat bahwa pasangan Gubernur H Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Hj Sitti Rohmi Djalilah akan membawa NTB Gemilang begitu tinggi. Bahkan mencapai 87 persen. Namun, begitu, masih banyak hal yang harus dibenahi.

Sejak dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, 19 September lalu, Gubernur Zul terus bergerak menyambangi masyarakat. Namun tidak semua program pemerintah diketahui warga.

Hal ini terungkap dari hasil survei yang dilakukan MY Institute, yang dipaparkan di hadapan Gubernur NTB Zulkieflimansyah di Pendopo Gubernur NTB, kemarin (16/12). Dari hasil survey tersebut, hingga saat ini terlihat masyarakat puas dengan kinerja Zul-Rohmi.

Direktur MY Institute Miftahul Arzak mengungapkan, berdasarkan survei yang dilakukan 20 November hingga 3 Desember, tingkat kepuasan masyarakat terharap kepemimpinan Zul-Rohmi cukup bagus. Persentasenya 55,6 persen puas dan 44,4 persen warga tidak puas.

Menurut Miftah, masyarakat sudah cukup puas dengan berbagai gebrakan dan program yang dijalankan. Penilaian tersebut dilihat dari intensitas keduanya turun ke masyarakat dan mendengar keluh kesah warga secara langsung.

Sementara itu, terkait optimisme masyarakat NTB terharap pemerintahan yang ada saat ini cukup tinggi yakni 87 persen, dan 13 persen tidak optimis. ”Masyarakat menaruh harapan besar pada keduanya,” kata Miftah dalam keterangan pers di Pendopo Gubernur NTB.

Aktivitas turun lapangan yang dilakukan Zul-Rohmi juga cukup efektif. Terlihat dari hasil survei 66,4 persen masyarakat tahu siapa gubernurnya dan 33,6 persen tidak tahu.

Banyak Harus Diperbaiki

Meski demikian, hasil survei juga menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diperbaiki Zul-Romhi ke depan. Diantaranya, penanganan terhadap korban gempa, informasi dari pemerintah kepada korban gempa masih kurang merata, baik terkait pencairan, persyaratan dan proses klaim bantuan. Hasil survei menunjukkan 66,1 persen berpendapat informasi penanganan bencana gempa belum merata, dan hanya 33,9 persen yang berpendapat sudah merata.

Kemudian penyaluran bantuan korban gempa juga belum sesui harapan masyarakat. 64,5 persen responden mengau penanganan belum sesuai harapan, dan 35,5 sudah sesuai harpan. Masyarakat ingin agar bantuan perbaikan rumah segera dilakukan dan dana segera cair. ”Minimal mendapat bahan bangunan untuk membangun rumah sendiri,” ujarnya.

Data lain yang cukup mengejutkan, program pengiriman 1000 mahasiswa ke luar negeri banyak yang belum mengetahui. Hasil survei 79,8 persen masyarakat tidak tahu dan hanya 20,2 persen yang tahu. Kalangan yang banyak tahu hanya dosen/guru, karyawan swasta dan pensiunan.

Tapi 91,1 persen responden menilai program tersebut positif sebagai salah satu langkah meningkatkan SDM NTB. Namun 8,9 persen masyarakat menilai kurang berdampak karena hanya bagi lulusan S1 saja, sedangkan peningkatan skill lulusan SD dan SMP belum ada.

Demikian juga dengan program jumpa Bang Zul dan Umi Rohmi. Hasil survei 89,6 persen masyarakat belum tahu dan hanya 10,4 persen warga yang tahu program itu.

Kemudian kinerja penanganan pariwisata pascagempa. Gempa tersebut telah berdampak besar bagi industri pariwisata NTB. Sayangnya, dalam pengelolaan pariwisata masyarakat masih merasa kurang dilibatkan, 56,5 persen responden mengaku kurang dilibatkan, apakah itu terkait pengelolaan kebersihan maupun berjualan di destinasi tersebut.

Tapi masyarakat menilai pemerintah cukup memberikan perhatian terhadap penataan pariwisata pascagempa. Hasil survei 53,3 persen mengaku sudah perhatian dan 46,7 persen merasa belum ada perhatian yang serius terhadap perbaikan pariwisata.

Tidak Nilai Semua Program

Miftah menjelaskan, survei dilakukan dengan menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error 4,4 persen, tingkat kepercayaan 95 persen. Sementara jumlah sampel yang diambil 500 responden dari populasi 3.511.890 jiwa, mereka tersebar di seluruh kabupaten. ”Terbanyak dari Lombok Timur dengan 25 persen penduduk,” jelasnya.

Survei yang dilakukan tidak menilai semua program Zul-Rohmi, namun mereka hanya meneliti beberapa isu yang muncul di media dan media sosial. Program unggulan dalam RPJMD tidak disurvei karena mereka memang tidak melakukannya. Mereka hanya ingin mengukur program-program yang muncul di media. (ili/kus/r5)

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *