Sumber: Kolom Opini Radar Sumbawa, Kamis 16 Januari 2020

Pemilihan Kepala Daerah serentak tinggal menghitung bulan. Pendaftaran yang akan berlangsung pada April 2020 nanti akan menandai dimulainya kontestasi Pilkada di Kabupaten Sumbawa. Sejak tahun 2019 lalu berbagai bakal calon telah menampakkan diri. Dari baliho, visi misi di media sosial hingga menjadi bahan diskusi di tengah masyarakat ”laong pantar”. Berbagai lembaga penelitian dan survei juga berlomba-lomba untuk menampilkan polling bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa. Namun, pada akhirnya partai menjadi salah satu faktor penentu kendaraan yang harus dimiliki bakal calon tersebut untuk menjadi seorang calon hingga akhirnya nanti terpilih menjadi pasangan calon.

Menyambut  euphoria bakal calon Kepala Daerah Kabupaten Sumbawa, sejak akhir tahun 2019 lalu, berbagai partai telah membuka pendaftaran. Dari yang hanya mengandalkan kadernya, hingga membuka konvensi yang dapat diikuti oleh seluruh masyarakat. Di antara partai tersebut sudah ada yang mulai memperlihatkan calon yang akan diusung, ada juga yang masih malu-malu kucing. Namun, apakah partai-partai tersebut telah memilih calon yang akan mewakili partainya nanti berdasarkan kriteria penilaian masyarakat sehingga lebih mudah diterima oleh pemilih ? atau berdasarkan kriteria lainnya ?.

Yadi Satriadi, peneliti MY Institute memaparkan hasil survei timnya yang bertajuk “Kriteria Bakal Calon Kepala Daerah Idaman Masyarakat dalam Kontestasi Pilkada tahun 2020”. MY Institute melakukan survei sejak tanggal 3-13 Januari 2020. Survei tersebut menggunakan metode Multistage Random Sampling dengan Margin of Error 2.6%, Tingkat Kepercayaan 95% sehingga mendapatkan 1200 responden yang tersebar di seluruh tingkatan kecamatan hingga desa/kelurahan yang berbasis TPS. Dalam survei tersebut mencoba melihat berbagai latar belakang dari para bakal calon yang kini bermunculan di tengah masyarakat.

Yadi menegaskan, MY Institute dalam surveinya kali ini melihat Bakal Calon pilihan masyarakat dari berbagai latar belakang. Diantaranya: Jenis Kelamin BakalCalon yang nantinya akan bertarung di Pilkada 2020, Penilian masyarakat tentang asal daerah bakal calon dan penilaian berdasarkan usia bakal calon kepala daerah.

Yadi menilai, banyak diantara partai politik atau masyarakat saat ini hanya menyebut nama, tanpa melihat bagaimana penilaian dan figur yang diinginkan oleh masyarakat. Maka, tahap awal yang perlu diketahui adalah kriteria sebelum masuk dalam penyebutan nama. Namun, walaupun saat ini kami hanya merilis kriteria berdasarkan beberapa latar belakang, kami juga telah melakukan survei yang mendapatkan tingkat popularitas dan akseptabilitas yang akan di rilis pada bulan Februari mendatang.

Dalam penelitian MY Institute, sama dengan Bupati dan Wakil Bupati sebelum-sebelumnya. Masyarakat Sumbawa cenderung memilih Calon Bupati dan Wakil Bupati berjenis kelamin Laki-laki berpasangan dengan Laki-laki. Angka pilihan tersebut cukup tinggi, yaitu mencapai 53,4%. Dilanjutkan dengan keinginan masyarakat sejumlah 43% yang menginginkan Bupatinya berjenis kelamin Laki-laki dengan Wakil Bupatinya seorang Perempuan. Selisihnya terhitung cukup jauh, yaitu mencapai 10%. Maka, partai perlu mempertimbangkan salah satu aspek ini. Untuk urutan ketiga, sebanyak 2.5% masyarakat berharap pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati berjenis kelamin Perempuan dengan Laki-laki. Sedangkan di posisi terakhir, hanya 1.1% yang menginginkan pemimpinnya berpasangan antara Perempuan dengan Perempuan. Urutan ketiga dan keempat tersebut cukuplah jauh, sehingga partai perlu memperhitungkan ketika ingin memajukan pasangan-pasangan dengan kombinasi jenis kelamin tersebut.

Selain jenis kelamin. Salah satu yang disorot oleh masyarakat Sumbawa adalah asal daerah bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa yang nantinya akan bertarung di Pilkada 2020. Penilaian masyarakat terkait asal daerah bakal calon Bupati dan Wakil Bupati perlu dinilai karena berbagai isu dapat dimainkan oleh pesaingnya nanti, termasuk isu asal daerah. Dari seluruh responden, Yadi menyampaikan terdapat 78.2% masyarakat menginginkan pemimpinnya orang asli Sumbawa. Angka yang cukup tinggi untuk sebuah penolakan terhadap bakal calon yang bukan asli Sumbawa. Belum lagi 69.9% masyarakat menginginkan wakil bupati nya harus asli Sumbawa. Maka ungkapan “bela baris” yang sering digaungkan mulai terlihat dari hasil Suvei ini. Perlu ada kajian-kajian mendalam secara sosiologis untuk mengungkapkan hal ini, terang Yadi.

Selain dua latar belakang tersebut, MY Institute juga melihat penilaian masyarakat berdasarkan usia. Disadari atau tidak, kehadiran Sandiaga Uno sebagai calon Wakil Presiden RI tahun 2019 lalu, dan bermunculan beberapa Kepala Daerah berumur di bawah 45 tahun menjadi penilaian khusus masyarakat Sumbawa terkait calon kepala daerahnya kelak. Menariknya, penilaian tersebut berbanding lurus. Di dapatkan 54.6% masyarakat menginginkan bahwa yang terpilih menjadi Bupati Sumbawa nanti rentang usianya 30-45 tahun, sedangkan 43.9% masyarakat menginginkan  Bupati Sumbawa berusia 46-60 tahun, dan terakhir hanya 1.5% masyarakat menginginkan Bupati Sumbawa berusia 60 tahun ke atas. Pilihan tersebut berbanding lurus bagi pasangannya yaitu 56% masyarakat menginginkan Wakil Bupatinya juga yang masih enerjik dan bersemangat, yaitu di rentang usia 30-45 tahun, sedangkan 42.2% masyarakat Sumbawa menginginkan Wakil Bupatinya berusia 46-60 tahun dan yang terakhir hanya 1,8% masyarakat yang menginkan nantinya mereka dipimpin oleh wakil  bupati yang berusia 60 tahun ke atas.

Berdasarkan pemaparan di atas, beberapa pertanyaan kemudian muncul terkait seberapa efektifkah ketiga aspek latar belakang tersebut dapat mempengaruhi keterpilihan kepala daerah di Kabupaten Sumbawa?. Saat ini MY Institute tengah melakukan kajian mendalam terkait peluang kemenangan kandidat kepala daerah berdasarkan tiga aspek kajian latar belakang  tersebut. Aspek-aspek tersebut memiliki peranan yang siginifikan terhadap keterpilihan calon  kepala daerah. Kini, pilihannya berada di tangan partai politik. Partai Politik melihat berbagai kriteria tersebut atau melihat kriteria lainnya.

Survei MY Institute: Partai Harus Jeli Membaca Calon Bupati dan Wakil Bupati Keinginan Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *