• Informasi lebih lanjut hubungi +6282340009428

Kegiatan Hari Pertama Sekolah Pilar Muda

Admin Sekolah Pilar Muda 22 July 2026
Kegiatan Hari Pertama Sekolah Pilar Muda
Sebelum memasuki rangkaian pembelajaran hari pertama, seluruh delegasi terlebih dahulu mengikuti proses pembentukan kepengurusan kelas sebagai bagian dari pembelajaran kepemimpinan dan demokrasi. Melalui mekanisme musyawarah yang melibatkan seluruh peserta, delegasi memilih seorang ketua kelas dan wakil ketua kelas yang bertugas membantu koordinasi peserta selama pelaksanaan Sekolah Pilar Muda. Proses pemilihan ini tidak hanya bertujuan membentuk struktur koordinasi kelas, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran awal bagi peserta mengenai pentingnya partisipasi, representasi, komunikasi, serta pengambilan keputusan secara demokratis. Ketua dan wakil ketua kelas yang terpilih kemudian berperan sebagai penghubung antara delegasi dengan panitia maupun fasilitator selama berlangsungnya kegiatan Sekolah Pilar Muda. Setelah proses pemilihan ketua dan wakil kelas selesai dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi hari pertama yang difokuskan pada penguatan kapasitas kepemimpinan, kemampuan berdialog, pengelolaan konflik, serta pemahaman terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Materi-materi tersebut disusun secara berjenjang sebagai fondasi sebelum para delegasi memasuki tahapan15 persidangan, penyusunan rekomendasi kebijakan, dan perancangan project sosial pada hari-hari berikutnya.

a. Kelas Simulasi Sidang
Materi pertama disampaikan oleh Dr. Miftahul Arzak, S.I.Kom., M.A. mengenai Simulasi Sidang dan Pengambilan Keputusan. Materi ini bertujuan membekali delegasi dengan pemahaman mengenai mekanisme persidangan yang akan digunakan selama Sekolah Pilar Muda, khususnya pada saat penyusunan dan pembahasan rekomendasi kebijakan. Dalam sesi ini peserta diperkenalkan pada tata cara persidangan, mekanisme penyampaian usulan, teknik menyusun argumentasi, proses musyawarah, hingga metode pengambilan keputusan secara kolektif. Peserta juga diberikan pemahaman bahwa sidang bukan sekadar ruang untuk mempertahankan pendapat, melainkan sarana untuk mempertemukan berbagai gagasan, membangun kesepahaman, dan menghasilkan keputusan yang berpihak pada kepentingan bersama. Melalui simulasi yang dilakukan secara langsung, para delegasi dilatih untuk menyampaikan pendapat secara sistematis, berbicara berdasarkan data dan fakta, menghargai pandangan yang berbeda, serta membangun budaya dialog yang sehat. Pembelajaran ini menjadi penting karena pada akhir kegiatan para delegasi akan melaksanakan sidang pleno untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai bentuk kontribusi nyata generasi muda terhadap pembangunan Kabupaten Sumbawa.

b. Kelas Resolusi Konflik
Materi kedua disampaikan oleh Lalu Ahmad Taubih, S.AP., M.Sc., CHCM dengan tema Resolusi Konflik. Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami bahwa konflik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan dapat muncul dalam berbagai ruang interaksi sosial, baik di lingkungan keluarga,
sekolah, organisasi, maupun masyarakat. Pemateri menjelaskan bahwa konflik tidak selalu bersifat negatif. Apabila dikelola dengan baik, konflik justru dapat melahirkan perubahan, inovasi, dan solusi yang lebih baik. Untuk memahami cara menghadapi konflik, peserta diperkenalkan pada teori Simon Fisher dalam buku Working With Conflict yang menjelaskan lima gaya penyelesaian konflik, yaitu menghindar (avoiding), bersaing (competing), mengakomodasi (accommodating), berkompromi (compromising), dan berkolaborasi (collaborating). Setiap pendekatan memiliki karakteristik dan penggunaannya masingmasing sesuai dengan situasi yang dihadapi. Selain itu, peserta juga mempelajari teknik komunikasi asertif melalui metode IMessage atau I-Statement, yaitu cara menyampaikan perasaan dan kebutuhan tanpa menyalahkan pihak lain. Teknik ini menekankan kemampuan mengidentifikasi masalah, menjelaskan dampak yang dirasakan, serta menyampaikan harapan sebagai solusi. Melalui materi ini peserta belajar membangun komunikasi yang lebih sehat dan konstruktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial.

c. Kelas Manajemen Isu Sosial dan Lingkungan
Materi ketiga disampaikan oleh Julmansyah, S.Hut., M.A.P. dengan tema Kebijakan dan Manajemen Penanganan Konflik Tenurial Kawasan Hutan. Materi ini memberikan pemahaman kepada peserta mengenai hubungan antara pembangunan, lingkungan hidup, dan berbagai persoalan sosial yang muncul dalam pengelolaan sumber daya alam. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Indonesia memiliki kawasan hutan yang sangat luas dengan berbagai fungsi, mulai dari fungsi konservasi, perlindungan lingkungan, hingga fungsi produksi yang mendukung kehidupan masyarakat. Namun tingginya aktivitas pemanfaatan kawasan hutan untuk kepentingan pertanian, perkebunan, pertambangan, dan pembangunan lainnya sering kali menimbulkan benturan kepentingan antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. Kondisi tersebut melahirkan berbagai konflik tenurial yang berkaitan dengan penguasaan, kepemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan lahan. Peserta diperkenalkan pada berbagai contoh konflik tenurial yang terjadi di Indonesia serta dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Melalui materi ini, peserta diajak memahami bahwa penyelesaian persoalan sosial dan lingkungan memerlukan pendekatan yang komprehensif melalui kepastian hukum, penataan batas wilayah, pengawasan pemanfaatan lahan, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Pemahaman tersebut menjadi bekal penting bagi delegasi dalam menganalisis berbagai persoalan daerah dan menyusun rekomendasi kebijakan yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, pembelajaran hari pertama memberikan fondasi penting bagi para delegasi dalam memahami proses pengambilan keputusan, mengelola konflik, membangun komunikasi yang efektif, serta menganalisis isu sosial dan lingkungan secara kritis. Kompetensi tersebut menjadi modal utama dalam mengikuti seluruh rangkaian Sekolah Pilar Muda dan dalam merumuskan gagasan yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Sumbawa.