Kegiatan Hari Pertama Sekolah Pilar Muda
Admin
Sekolah Pilar Muda
22 July 2026
Sebelum memasuki rangkaian pembelajaran hari pertama, seluruh delegasi
terlebih dahulu mengikuti proses pembentukan kepengurusan kelas sebagai bagian
dari pembelajaran kepemimpinan dan demokrasi. Melalui mekanisme musyawarah
yang melibatkan seluruh peserta, delegasi memilih seorang ketua kelas dan wakil
ketua kelas yang bertugas membantu koordinasi peserta selama pelaksanaan
Sekolah Pilar Muda. Proses pemilihan ini tidak hanya bertujuan membentuk struktur
koordinasi kelas, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran awal bagi peserta
mengenai pentingnya partisipasi, representasi, komunikasi, serta pengambilan
keputusan secara demokratis. Ketua dan wakil ketua kelas yang terpilih kemudian
berperan sebagai penghubung antara delegasi dengan panitia maupun fasilitator
selama berlangsungnya kegiatan Sekolah Pilar Muda.
Setelah proses pemilihan ketua dan wakil kelas selesai dilaksanakan, kegiatan
dilanjutkan dengan penyampaian materi hari pertama yang difokuskan pada
penguatan kapasitas kepemimpinan, kemampuan berdialog, pengelolaan konflik,
serta pemahaman terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Materi-materi tersebut
disusun secara berjenjang sebagai fondasi sebelum para delegasi memasuki tahapan15
persidangan, penyusunan rekomendasi kebijakan, dan perancangan project sosial
pada hari-hari berikutnya.
a. Kelas Simulasi Sidang
Materi pertama disampaikan oleh Dr. Miftahul Arzak, S.I.Kom., M.A. mengenai
Simulasi Sidang dan Pengambilan Keputusan. Materi ini bertujuan membekali
delegasi dengan pemahaman mengenai mekanisme persidangan yang akan
digunakan selama Sekolah Pilar Muda, khususnya pada saat penyusunan dan
pembahasan rekomendasi kebijakan.
Dalam sesi ini peserta diperkenalkan pada tata cara persidangan, mekanisme
penyampaian usulan, teknik menyusun argumentasi, proses musyawarah, hingga
metode pengambilan keputusan secara kolektif. Peserta juga diberikan pemahaman
bahwa sidang bukan sekadar ruang untuk mempertahankan pendapat, melainkan
sarana untuk mempertemukan berbagai gagasan, membangun kesepahaman, dan
menghasilkan keputusan yang berpihak pada kepentingan bersama.
Melalui simulasi yang dilakukan secara langsung, para delegasi dilatih untuk
menyampaikan pendapat secara sistematis, berbicara berdasarkan data dan fakta,
menghargai pandangan yang berbeda, serta membangun budaya dialog yang sehat.
Pembelajaran ini menjadi penting karena pada akhir kegiatan para delegasi akan
melaksanakan sidang pleno untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang akan
disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai bentuk kontribusi nyata generasi
muda terhadap pembangunan Kabupaten Sumbawa.
b. Kelas Resolusi Konflik
Materi kedua disampaikan oleh Lalu Ahmad Taubih, S.AP., M.Sc., CHCM dengan
tema Resolusi Konflik. Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami bahwa17
konflik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan
dapat muncul dalam berbagai ruang interaksi sosial, baik di lingkungan keluarga,
sekolah, organisasi, maupun masyarakat.
Pemateri menjelaskan bahwa konflik tidak selalu bersifat negatif. Apabila dikelola
dengan baik, konflik justru dapat melahirkan perubahan, inovasi, dan solusi yang lebih
baik. Untuk memahami cara menghadapi konflik, peserta diperkenalkan pada teori
Simon Fisher dalam buku Working With Conflict yang menjelaskan lima gaya
penyelesaian konflik, yaitu menghindar (avoiding), bersaing (competing),
mengakomodasi (accommodating), berkompromi (compromising), dan berkolaborasi
(collaborating). Setiap pendekatan memiliki karakteristik dan penggunaannya masingmasing sesuai dengan situasi yang dihadapi.
Selain itu, peserta juga mempelajari teknik komunikasi asertif melalui metode IMessage atau I-Statement, yaitu cara menyampaikan perasaan dan kebutuhan tanpa
menyalahkan pihak lain. Teknik ini menekankan kemampuan mengidentifikasi
masalah, menjelaskan dampak yang dirasakan, serta menyampaikan harapan
sebagai solusi. Melalui materi ini peserta belajar membangun komunikasi yang lebih
sehat dan konstruktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial.
c. Kelas Manajemen Isu Sosial dan Lingkungan
Materi ketiga disampaikan oleh Julmansyah, S.Hut., M.A.P. dengan tema
Kebijakan dan Manajemen Penanganan Konflik Tenurial Kawasan Hutan. Materi ini
memberikan pemahaman kepada peserta mengenai hubungan antara pembangunan,
lingkungan hidup, dan berbagai persoalan sosial yang muncul dalam pengelolaan
sumber daya alam.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Indonesia memiliki kawasan hutan yang
sangat luas dengan berbagai fungsi, mulai dari fungsi konservasi, perlindungan
lingkungan, hingga fungsi produksi yang mendukung kehidupan masyarakat. Namun
tingginya aktivitas pemanfaatan kawasan hutan untuk kepentingan pertanian,
perkebunan, pertambangan, dan pembangunan lainnya sering kali menimbulkan
benturan kepentingan antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. Kondisi
tersebut melahirkan berbagai konflik tenurial yang berkaitan dengan penguasaan,
kepemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan lahan.
Peserta diperkenalkan pada berbagai contoh konflik tenurial yang terjadi di
Indonesia serta dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Melalui
materi ini, peserta diajak memahami bahwa penyelesaian persoalan sosial dan
lingkungan memerlukan pendekatan yang komprehensif melalui kepastian hukum,
penataan batas wilayah, pengawasan pemanfaatan lahan, serta kolaborasi antara
pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Pemahaman tersebut menjadi bekal
penting bagi delegasi dalam menganalisis berbagai persoalan daerah dan menyusun
rekomendasi kebijakan yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, pembelajaran hari pertama memberikan fondasi penting
bagi para delegasi dalam memahami proses pengambilan keputusan, mengelola
konflik, membangun komunikasi yang efektif, serta menganalisis isu sosial dan19
lingkungan secara kritis. Kompetensi tersebut menjadi modal utama dalam mengikuti
seluruh rangkaian Sekolah Pilar Muda dan dalam merumuskan gagasan yang dapat
memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Sumbawa.